Alamat :Kantor :
HP
Hehehehe....enake... dadi Asune..........plengah-plengeh dikekepi mbak flavi.....
KOMUNITAS ALUMNI DISAIN INTERIOR 88 INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA
Arip Setiawan DIISI-88
"NANANG RAKHMAT HIDAYAT" DIISI 88,| Nanang RH ‘Mencari Telur Garuda’ |
| 06/08/2008 08:58:16 YOGYA (KR) - Nanang R Hidayat SSn, dosen ISI Yogyakarta penasaran betul dengan burung Garuda Pancasila. Sejak tahun 2003 melakukan ‘perburuan’ burung Garuda Pancasila dari desa sampai kota. “Perburuan selama 5 tahun itulah, Rabu 6 Agustus soal seluk beluk burung Garuda Pancasila akan saya beberkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara,” ucap Nanang R Hidayat, Selasa (5/8). Dikatakan Nanang, dalam momentum ini dirinya membeberkan burung Garuda Pancasila dalam berbagai format, yakni berupa video, pameran, bedah buku berjudul ‘Mencari Telur Garuda’. Nanang mengatakan, buku tersebut sebenrnya adalah tesis di Program Pencipataan Seni ISI Yogyakarta. “Saya ujian tesis sekaligus meluncurkan buku tersebut,” ucap penata artistik film ‘Opera Jawa’ garapan sutradara Garin Nugroho. Tesis akan diuji Dr Dwi Marianto MFA, Drs Soebroto SM MHum dan Drs Alexandri Lutfie MS. Dalam momentum tersebut dilakukan pemutaran film video tentang Pancasila, Pameran potret yang berlangsung hingga Sabtu (9/8) tersebut menghadirkan Potret 150 spesies Garuda. Minggu (10/8) pukul 10.00-12.00 bedah buku berjudul ‘Mencari Telur Garuda’ dengan narasumber Kris Budiman, Budi Irawanto MA, Prasetyo Budi Leksono. Diakui Nanang, mencari tahu burung Garuda Pancasila diawali tahun 2003 saat mempersiapkan materi foto bersama di Gelar Seni ISI, Museum Nasional Jakarta. Waktu itu baru mendapatkan 26 ‘ekor’ burung Garuda, namun sudah memunculkan kekaguman, keheranan dan kegelian ketika mengabadikan burung Garuda Pancasila. “Apalagi kini, saya sudah membidik 170 ‘ekor’ burung Garuda dalam bentuk dokumentasi foto maupun video,” ujar Nanang juga dosen Akademi Desain Visi Yogya (ADVY). Materi itu sebagian besar ditemukan di Bantul, Wates, Klaten, Jepara, Magelang, Malang, Menado, Mojokerto sejumlah pelosok tanah air. “Materi ini sebenarnya untuk tamba eling atau pengingat-ingat kita masih atau pernah punya lambang negara Garuda Pancasila, meski kini tidak populer di hati generasi muda. Hal ini seiring pudarnya rasa nasionalisme,” ucapnya. Dalam pengantar buku, Nanang sangat satire menulisnya, Untuk negeri tercinta, tempat tumbuh anak cucu kita nanti, ketika mungkin sudah tak ada lagi Garuda Pancasila di sana |
"RAHMAWAN D. PRASETYA", DIISI 88
"DWI RETNO SRI AMBARWATI", DIISI 88
"BAMBANG INDRO SANTOSO", DIISI 88
"MARHASTO NUGROHO", DIISI 88
"RADEN BAGUS SURATIYO" DIISI 88